Pekerjaan

Sebelum pulang kerja tadi, sempat ngobrol dengan salah satu karyawan di kantor yang dapat tugas malam. Pokok bahasannya adalah tentang teman yang mengajukan pengunduran diri meskipun mempunyai posisi yang sangat berarti. Dari obrolan tersebut, saya akan mencoba membagi tipe orang terhadap pekerjaan dalam 3 tipe. Pertama, tipe semangat dan ambisius mengejar karir. Kedua, menikmati kenyamanan terhadap karirnya. Ketiga, semangat dan ambisius mencari kenyamanan karirinya.

Tipe semangat dan ambisius mengejar karir. Tipe ini mempunyai kebaikan bahwa dia berusaha sekuat tenaga untuk meningkatkan dan mengembangkan diri. Namun yang perlu diwaspadai dari tipe ini adalah apabila dia lupa diri dan menghalalkan segala cara untuk mengejar karirnya. Hasilnya tentu saja ada dua, yaitu berhasil semakin tinggi dengan membawa kebaikan sekitarnya atau berhasil tinggi dengan membawa kedengkian dan bisa jadi terus terjun kebawah.

Tipe kedua, orang yang menikmati kenyamanan pekerjaannya. Tipe ini banyak ada disekitar kita. Banyak orang mengejar dan berusaha untuk mendapatkan pekerjaan. Beberapa tahun berusaha dan karirnya meningkat hingga pada suatu posisi yang maksimal bagi dirinya. Misalnya: awal kerja sebagai cleaning service, kemudian karena prestasinya akhirnya menjadi supervisi atau kepala Office Boy. Karena pendidikannya, posisinya maksimal hanya sampai disitu. Dengan posisinya dan pekerjaannya saat ini, dia sudah merasa cukup dan nyaman. Padahal, kalau dilihat dari umurnya yang relatif masih muda, masih memungkinkan untuk mendapatkan pendidikan informal dan mengejar karir yang lebih tinggi.

Banyak dari kita yang meniti karir dari bawah hingga ke level yang tinggi kemudian menikmati kenyaman pekerjaannya. Pada kondisi ini, kita seharusnya hati-hati dan tetap mengembangkan diri mengikuti perubahan yang terjadi. Jangan sampai kita tetap dan disekitar kita berubah. Jika kita dak ikut berubah, maka kita akan tersingkir akibat kenyamanan pekerjaan itu. Pada kondisi ini, ada sebagian orang yang mengambil jalan yang berbeda. Pertama, sadar akan adanya perubahan namun tetap bertahan, maka cepat atau lambat akan tersingkir. Kedua, sadar adanya perubahan dan mengembangkan diri mengikuti perubahan, maka akan mampu tetap bertahan atau mungkin akan semakin meningkat karirnya. Ketiga, merasa sudah maksimal dan tidak dapat mengikuti perubahan atau bosan kenyamanan pekerjaannya. Yang ini bisa jadi akan mengajukan pengunduran diri dan mencoba mencari yang lain karena sadar akan perubahan yang mungkin tidak sesuai dengan pemikirannya namun tidak dapat berbuat banyak.

Tipe yang ketiga, semangat dan ambisius mencari kenyamanan atas pekerjaannya. Mungkin seperti inilah seharusnya. Kita harus berusaha mencari pekerjaan yang nyaman bagi kita, alias sesuai dengan keinginan kita. Bisa kerja sebagai karyawan atau membuat karyawan bekerja padanya. Sama seperti tipe pertama, yang harus diwaspadai adalah lupa diri dan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Ini bisa juga terjadi sebagai tipe kedua dengan kondisi yang ketiga, yaitu melakukan mengunduran diri untuk mengejar cita-citanya. Nah, kalau yang ini bagusnya adalah selalu terarah kepada pekerjaan yang sesuai dengan harapannya. Mencari pekerjaan pun harus sesuai dengan hasratnya

Menurut saya, tipe yang ketiga inilah seharusnya. Kita akan lebih nyaman dan mampu bertahan dalam berbagai perubahan jika berada pada jalan yang menjadi tujuannya.

Ya, begitulah sedikit catatan tentang pemikiranku. Silahkan berkomentar dan berbagi pendapat.

Digitasi On Screen di ArcMap (1)

Sebelumnya, catatan saya tentang koreksi geometri untuk peta scan maupun citra penginderaan jauh. Dengan data raster yang mempunyai referensi kebumian (georeference), kita dapat melanjutkan langkah dengan penyadapan informasi yang ada di dalamnya. Jika raster tersebut berupa peta scan, maka selanjutnya kita dapat men-delineasi  informasi peta tersebut. Jika rater tersebut berupa citra penginderaan jauh, maka informasi di dalamnya dapat disadap dengan cara interpretasi dan delineasi. Delineasi dapat dilakukan dengan digitasi di layar monitor langsung di ArcMap. Berikut catatannya.

Buka Arcmap dan peta scan-nya yang ber-georeferensi, kemudian

1. Buat feature class. Feature class adalah tempat kita menyimpan penggambaran permukaaan bumi dalam bentuk grafis berserta atributnya. Kita bisa membuatnya dalam format yang biasa dipakai, yaitu: shp atau bisa di geodatabase. Cara membuat feature class secara resmi yaitu melalui toolbox dan ArcCatalog (ada dalam catatan yang lain). Namun, untuk kali ini untuk menambah catatan, akan digunakan cara lain, yaitu: “Convert Graphic to Feature”.

Seperti kita ketahui, secara umum, geometri feature class dapat dibedakan sebagai Titik, Garis, dan Area (Poligon). Untuk itu, dengan cara yang akan kita catat, tentukan terlebih dahulu geometrinya. Misalnya: kita akan menginterpretasi dan delineasi kenampakan poligon berupa area administrasi.

Di toolbar Draw klik pada dropdown geometri grafis. Ada Rectangle, Polygon, Circle, Ellipse, Line, Curve, FreeHand, dan Marker. Berbagai macam tipe grafis tersebut pada dasarnya adalah titik, garis dan area. Karena kita akan buat poligon tidak beraturan, pilih dan klik Polygon.Mulailah menggambar objek yang ada. Klik sekali untuk memulai dan membuat vertex, dan akhiri dengan klik dua kali

Tips:

Untuk mempermudah saat melakukan zoom in, zoom out, dan menggeser (pan) kenampakan untuk digitasinya. Kita dapat menggunakan keyboard “z” untuk zoom in, “x” untuk zoom out, dan “c” untuk pan. Saat menekan tombol keyboard tersebut tanda kursor akan berubah seperti fungsi yang dimaksud, dan akan kembali ke kursor aktif semuka saat keyboard dilepaskan.

Setelah satu objek grafis terbuat, pada Table of Contents klik kanan di Data Frame. Sorot dan pilih “Convert Graphics To Features

 

Di kotak dialog yang muncul, pastikan grafis yang kita maksudkan yang akan kita jadikan feature class. Tentukan koordinatnya, biasanya sama dibuat sama dengan data frame-nya. Tentukan nama dan lokasi penyimpanannya. Dan aktifkan saja contreng untuk Automatically delete graphic after conversion, ini karena biasanya grafis yang dijadikan feature class tidak digunakan lagi. Klik OK.

Ada kotak dialog pertanyaan konfirmasi, apakah akan kita tambahkan sebagai layer pada peta yang tampil? Karena akan kita lanjutkan dengan objek-objek yang lain, pilih dan klik “Yes”.

Sampai disini kita sudah mempunyai feature class, tinggal kita lanjutkan ke tahapan selanjutnya.

2. Edit feature class.

Mengganti simbol. Sebelum melanjutkan ke proses selanjutnya, akan lebih mudah jika kita ganti dulu simbol objek layer dari feature class yang sudah kita dibuat sebelumnya. Kita akan buat sebagai poligon dengan outline tertentu dan isinya transparan. Klik simbol yang ada di Table Of Contents di Layer bersangkutan.

Pada kotak dialog Symbol Selector, pilihlah Hollow kemudian klik Outline Color untuk merubah warna garis pinggirnya (outline). Dapat juga diganti ketebalan garis pinggirnya di isian Outline Width. Klik OK untuk eksekusinya.

Memuai edit feature class. Pada toolbar Editor, klik dropdown list Editor dan klik di menu Start Editor. Muncul fasilitas Create Features, klik pada nama layer bersangkutan sehingga akan muncul daftar tool yang dapat digunakan untuk digitasi. Pilih Polygon jika akan mendigitasi yang dibuat adalah tidak beraturan dan dibentuk berdasarkan vertex yang kita tempatkan.

   

Karena akan ditambahkan bersambungan dengan poligon yang sudah ada, maka kali ini akan saya pilih Auto Complete Polygon. Tool ini fungsinya adalah langsung menambahkan objek yang bersambungan dengan objek bersebelahan. Berikut gambaran ilustrasinya:

OK, jika tool tersebut sudah aktif, langsung saja digitasi objek disebelah poligon yang sudah terbentuk dan potongkanlah digitasian tersebut.

Lakukanlah untuk semua poligon yang akan didigit/delineasi

Masih banyak teknik digitasi untuk poligon, garis dan titik yang belum di catat dalam edisi ini. Semoga nanti saya dapat membuat catatan tentang digitasi tersebut.

 

Film Negeri 5 Menara

25 March 2012 2 comments

Baru saja semalam saya dan istri menonton film “Negeri 5 Menara” di bioskop di salah satu mall di Jakarta Selatan. Katanya sih bagus. Nah, di sini saya akan sedikit berkomentar dan bercerita tentang kesan dan pelajaran yang menarik untuk saya. Ini tentang film-nya, saya belum pernah membaca novelnya. Bisa jadi novelnya lebih bagus, sama, atau lebih jelek. ???

Tentang judulnya. Saya merasa judulnya kurang pas. Setau saya, yang namanya judul (puisi, cerpen, film, dsb) seharusnya menggambarkan isinya. Atau dengan kata lain, judul adalah pokok pikiran dari objek sesuatu tersebut. Dalam film ini, saya merasa muatan judulnya tidak lebih dari 5 persen. Yang saya lihat, koreksi saya jika saya salah, bahasan judul hanya muncul saat para pemain utama melihat awan dan pada bagian akhir film tersebut. Menurut saya, fokus utama film adalah tentang kehidupan si Alif lewat pendidikannya. Atau tentang pepatah Arab “man jadda wajada”, mungkin menurut saya ini yang lebih tepat sebagai judulnya.

Ending. Setelah “man jadda wajada”, langsung lari ke beberapa tahun kedepan dan semuanya mendapatkan apa yang menjadi mimpinya. Bagi saya itu adalah ending yang biasa, atau mungkin dapat dikatakan ending-nya dapat ditebak. Kalo tema intinya tentang “man jadda wajada”, menurut saya, biarkan saja tetap bercerita tentang kesungguhan usaha mereka dan dapat dihentikan dikondisi seperti itu.

Kemudian tentang kesan. Bagi saya pribadi, bukan tentang “man jadda wajada”-nya yang menjadi pelajaran baru. Mungkin bagi orang lain, itu memang menjadi suatu pelajaran baru yang menginspirasikan. Namun, saya mempunyai sesuatu yang lain yang berkesan, bagi saya memang seharusnya yang bersungguh-sungguh akan mendapatkan kesuksesannya. Itu wajar. Nah, bagi saya, penggalan cerita yang menarik adalah saat si Baso pulang dan tidak lagi belajar di pondok pesantren tersebut. Dimana kesempatan dan keinginannya menghafal Quran dan membuat tafsir saat masih menjadi santri tidak dapat terlaksana. Di kampung halamannya, di sela-sela dia merawat neneknya, dia menularkan ilmu yang dimilikinya. Dia membuat kelompok pengajian anak-anak.

Itulah sesuatu yang berkesan bagi saya. Kita tidak harus memiliki dan menjalani sesuatu dengan baik untuk dapat bermanfaat bagi orang lain. Dengan keterbatasan yang ada, yang kita miliki, kita masih mempunyai kelebihan dari orang lain. Kelebihan inilah yang dapat kita bagikan untuk menjadi bermanfaat untuk orang lain. Dalam cerita itu, untuk menjadi orang besar tidak harus melewati dan lulus dari pondok pesantren. Kita selalu dapat bermanfaat bagi orang lain meskipun dengan keterbatasan yang kita miliki.

Membuat Rencana Tanam Kelapa Sawit

Senang rasanya malam ini dapat menyelesaikan pembuatan tool yang dapat mendukung pekerjaan saya. Tool ini berfungsi untuk membuat titik-titik rencana tanam kelapa sawit, terutama untuk perkebunan dengan wilayah yang relatif datar atau tanpa teras.

Sebenarnya tool ini sudah ada sejak tahun lalu. Namun, sejak satu minggu yang lalu saya mendapatkan tugas untuk membuat titik-titik rencana tanam kelapa sawit untuk wilayah yang sangat luas. Sudah saya jalankan dan masih berjalan sejak 5 hari ini proses tanpa berhenti belum juga selesai dengan sempurna (sampai saat ini komputer tempat proses masih menyala). Saya mengamati prosesnya… dan merasa proses ini dapat dipotong menjadi lebih singkat. Maka setelah jam kerja Jumat kemarin, saya mencoba membuatnya. Sebelum pulang, prototipe dasar script-nya sudah selesai dan berjalan dengan baik. Yes…!!!

Penyempurnaan saya lanjutkan di rumah. Dan dengan bantuan remote desktop, saya tes ke wilayah yang lebih besar, tidak tanggung-tanggung, 4x luas wilayah dari yang saat ini masih proses. Ini karena saya yakin script yang ini lebih ampuh. Wow!!! Dapat diselesaikan dalam waktu 3 jam saja!

Berikut beberapa preview sampel lain, yaitu tester area hanya 2000 ha.

    

 

Tidak ada yang gagal, yang ada adalah proses belajar.

 

Tips Pindah Rumah/Kos

Belum lama ini saya dan keluarga pindah rumah. Dari beberapa kali pindah kos atau kontrakan rumah, kali ini saya merasa yang paling capek. Akan saya sharing pengalaman saya mengenai pindahan (kos maupun kontrakan) sebagai berikut sebagai tips pindah rumah/kos:

1. Menentukan waktu pindahan.

Ini sangat tergantung tenaga dan banyaknya barang yang harus dipindahkan serta batas waktu pindahan. Pada dasarnya, berdasarkan pengalaman kami, jika memang barang yang kita miliki begitu banyak, akan lebih efisien ambilkan waktu fokus dan pasti untuk melakukan pindahan. Jika perlu ambilah cuti 1 atau 2 hari. Pada perusahaan tertentu (paling tidak tempat saudara saya bekerja) ada yang memberikan kelonggaran dengan memberikan libur 3 hari. Bisa jadi hal itu dengan pertimbangan 1 hari untuk packing, 1 hari untuk pindahan serta penataan sebagian, 1 hari melanjutkan penataan dan istirahat. Sangat manusiawi.

2. Menentukan sarana pengangkutan barang.

Sarana pengangkutan sangat tergantung dengan jarak lokasi tempat baru kita. Kami pernah mengalami pindahan dalam 3 kategori jarak, yaitu jauh, sedang, dan dekat. Pindahan jauh kami lakukan dari Bogor ke Jakarta. Pindahan berjarak sedang kami lakukan antara Pondok Labu ke Cilandak (dalam kota, dekat). Pindahan berjarak dekat adalah pindahan yang baru saja kami lakukan yaitu antar RT saja.

Pindahan jarak jauh dapat menggunakan jasa angkut profesional yang dapat dicari di internet maupun Yellow Pages. Saat itu tahun 2006-an, dari Bogor ke Jakarta sekali angkut biayanya 600 ribuan. Pindahan jarak sedang, kami menggunakan jasa angkut tidak profesional yang biasa mangkal di tempat-tempat tertentu. Tahun 2008-an antara Pondok Labu – Cilandak sekali angkut biayanya 200 ribu. Pindahan ini juga dibantu dengan angkutan motor (sendiri maupun berdua). Pindahan jarak dekat, dapat menggunakan sarana gerobak atau manual (otot). Capek!!!

3. Menentukan barang yang masih berguna atau akan berguna.

Biasanya ada beberapa barang yang tertimbun dalam reruntuhan (baca=gudang) yang jarang atau tidak pernah kita gunakan. Atau ada barang yang selalu nampak oleh mata kita namun sebenarnya barang tersebut tidak berguna lagi. Momen pindah rumah kadangkala dapat juga dijadikan momen untuk memilih dan memilah barang yang benar-benar kita butuhkan dan membuang atau menyumbangkan barang yang mungkin berguna bagi orang lain serta momon merapikan barang. Contoh yang saya alami, kami mempunyai rak dari kayu dan triplex yang berguna untuk meletakkan makanan sebelum/sesudah dihidangkan. Dulu letaknya berada disamping kulkas, dispenser, dan rice cooker. Di tempat baru kami, rak tersebut kami anggap tidak berguna lagi karena kami mempunyai susunan yang berbeda terhadap barang-barang tersebut. Contoh lain: tanaman. Sebelumnya, Istri saya suka cari-cari tanaman untuk diletakkan di depan rumah, namun karena di tempat baru sudah banyak tanamannya maka itu kami tinggalkan.

4. Mengelompokkan barang dan packing ke dalam kardus/box dengan rapi.

Ini minimal dilakukan sebelum kegiatan pengangkutan. Dari pengalaman kami, pengelompokan barang dan packing yang rapi sangat membantu pembongkaran dan penyusunannya di tempat yang baru. Atau bahkan jika kita belum sempat membongkar dan menyusun semua barang di tempat barunya, kita dapat dengan mudah menemukan saat kita membutuhkannya. Memang sangat mudah packing dengan tas kresek, saran saya: jangan Anda lakukan! Penempatan barang di tas kresek sangat dipengaruhi oleh grafitasi dan ruang alias tidak tersusun dengan baik. Jika suatu saat barang belum dapat tersusun di tempat barunya, Anda akan kesulitan mencari barang yang anda butuhkan (apalagi tas kresek besar dengan banyak barang). Kelompokkan dan susun dengan rapi barang sesuai temanya. Pengelompokan dapat berdasarkan fungsinya, atau berdasarkan tempat/rencana penempatannya. Contohnya: ada beberapa barang yang berada di meja kerja saya dan sekitarnya, yaitu seperangkat elektronik dan non elektronik. Barang-barang tersebut saya packing dalam satu kardus. Di tempat baru, disaat meja kerja sudah siap di posisinya, kardus itu saya bongkar dan saya susun ulang.

5. Merencanakan penempatan barang pindahan ke tempat baru.

Ini sangat membantu kita saat barang sampai di tempat baru kita. Barang datang, langsung diposisikan di rencana penempatannya. Sangat terbantu ketika tenaga bantuan sudah tidak ada dan kita akan merapikan/menyusun barang kita. Contoh: jika tanpa rencana, lemari baju (besar, tidak mungkin satu orang mampu menggangkatnya, kecuali samson) datang langsung masuk rumah. Jika ada rencana, kita dapat mengarangkan tenaga bantu untuk meletakkannya ke rencana yang kita punyai. “Tolong Pak, yang itu langsung masuk kamar saja, pojok situ menghadap ke sini. Terimakasih.”

Demikian sebagian pengalaman kami, semoga berguna. Jika ada teman-teman yang mempunyai pengalaman pindahan dan dapat digunakan sebagai tips pindah rumah, silahkan berbagi informasinya.

Sebagai tambahan dan saran: Packing-lah barang-barang dalam kardus/box sesuai kemampuan tenaga kita. Ada pengalaman, box yang sudah rapi dan dalam satu kelompok barang namun terlalu berat. Kebetulan saya cukup doyan dan punya sedikit buku, dan ada kardus bekas monitor yang cukup gede. Saya susun buku saya dalam kardus itu, tutup, bawah kuat, dan rapi. Saya coba angkat, wuih… beratnya… kardusnya sih (kalo isi monitor) masih bisa diangkat sendiri, tapi ini harus diangkat dua orang, pikir saya. Saat pindahan, ada tenaga pembantu: “ kuat-kuat, saya sendiri saja”. Saya & Istri sudah melarang, “Tunggu yang lain, berdua saja, ini berat Pak”. Ee…. sampe depan gang, berhenti dan minta bantuan temannya…

Categories: Umum Tags: , , , ,

Koreksi Geometri di ArcGIS

Salah satu proses yang terjadi dalam GIS adalah input data. Banyak data yang dapat digunakan untuk keperluan GIS, seperti: peta digital atau analog, citra penginderaan jauh, data sekunder dan tabuler. Citra penginderaan jauh merupakan salah satu data yang banyak digunakan untuk GIS maupun sekedar pemetaan. Seperti kita ketahui, citra penginderaan jauh tidak dapat langsung digunakan sebagai data, namun masih membutuhkan proses pengolahan.

Menurut John R. Jensen dalam bukunya “Introductory Digital Image processing – A Remote Sensing Perspective” menyebutkan bahwa citra penginderaan jauh mempunyai kesalahan geometrik berupa kesalahan sistematik dan non sistematik. Kesalahan geometrik tersebut ada yang dapat diperbaiki secara internal sensor dan ada yang membutuhkan sejumlah GCP (Ground Control Point) untuk memperbaikinya. GCP adalah titik di permukaan bumi dimana posisi di citra dan peta dapat diidentifikasikan.

Oke, stop teori dan pendahuluannya, langsung saja! Cara koreksi geometri di ArcGIS. Kali ini menggunakan contoh kasus scan peta Kab, Bantul. Contoh peta tersebut dapat diunduh di blog-nya Ajiek Darminto, di link: http://ajiekdarminto.files.wordpress.com/2010/11/peta-rawan-bencana-merapi_rekompak_ajiek_rev.jpg.

Kondisi awal, ArcMap terbuka.

1. Tambahkan atau buka peta scan yang akan dikoreksi di ArcMap. Ini dapat dilakukan dengan cara klik kanan di Data Frame – pilih dan klik Add Data atau klik icon-nya atau pilih klik tahan dan tarik dari ArcCatalog ke Data Frame.

Karena peta scan belum mempunyai referensi koordinat, maka akan tampil

 klik OK aja.

2. Jika belum ada, panggil toolbar “Georeferencing” dengan cara klik kanan pada area kosong tempat toolbar atau dari menu “Customize” – pilih “Toolbar” – dan pilih “Georeferencing”.

 

Peta scan atau citra penginderaan jauh secara umum dapat dikoreksi geometri dengan menggunakan 2 cara berdasarkan sumber referensi koordinatnya. Cara pertama yaitu image to image, adalah mengkoreksi citra dengan berdasarkan citra lain. Ini dilakukan jika kita mempunyai citra digital lain atau peta scan lain. Prinsip yang digunakan adalah membandingkan kenampakan dari citra/peta yang akan dikoreksi terhadap citra/peta referensi. Cara yang kedua adalah image to map, adalah mengkoreksi citra dengan berdasarkan masukan dari peta. Cara ini menggunakan peta analog atau daftar koordinat kenampakan sebagai referensi koreksi citra. Prinsip yang digunakan adalah memilih dan memasukkan koordinat referensi ke dalam citra/peta yang akan dikoreksi.

Dalam kasus contoh, akan digunakan cara image to map. Koordinat referensi akan kita dapatkan dari peta scan tersebut. Peta scan tersebut mempunyai grid koordinat, ini adalah sumber referensi koreksi geometrinya. Langsung saja, langkah-langkahnya…

3.  Pastikan layer target pada toolbar Georeferencing adalah layer yang akan dikoreksi. Pastikan juga fungsi Auto Adjust sudah aktif.

4. Klik icon Add Icon Points  , pilih objek atau kenampakan dari citra/peta scan yang akan digunakan sebagai titik ikat. Karena contoh kasus ini adalah peta scan, maka dapat digunakan pertemuan grid koordinat x,y. Klik pada kenampakan tersebut dan klik kanan, maka akan muncul pilihan untuk memasukkan nilai koordinat referensi. Pilih Input X and Y. Di kotak dialog selanjutnya, ganti koordinat piksel yang ada dengan koordinat referensi (geografis). Klik OK.

5. Jika tidak terlihat kenampakan citra/peta scan di Data View-nya, klik kanan layer-nya dan pilih klik Zoom To Layer. Ini berfungsi untuk menampilkan layer tersebut secara keseluruhan di Data View.

6.  Ulangi langkah no.4 untuk objek kenampakan yang lain. Atau minimal hingga keempat penjuru peta sudah ada titik GCP-nya. Cotohnya seperti berikut:

7.  Jika GCP sudah mencukupi dengan nilai kesalahan yang kecil, dapat dilanjutkan dengan meng-eksekusinya. Untuk melihat daftar GCP klik icon View Link Table . Perhatikan angka RMS dan Residual-nya. Jika sudah yakin referensi yang diberikan adalah benar, tidak perlu dihapus atau diedit.

 

Untuk eksekusinya, klik Georfeferencing – pilih dan klik Rectify. Isikanlah sesuai kebutuhan dan klik Save.

Sudah selesai. Hasil menjadi citra/peta scan baru sudah terkoreksi geometri dan siap untuk digunakan sebagai sumber data, misalnya: on screen digitazing. Untuk melihat hasilnya, buka citra/peta scan hasilnya dengan Add Layer.

Langkah-langkah tersebut adalah untuk koreksi yang sederhana. Dapat dikembangkan lagi sesuai citra/peta scan yang dihadapi sesuai kebutuhan lapangan. Untuk citra/peta scan yang lebih kompleks akan memutuhkan lebih banyak GCP. Juga untuk cakupan area yang mempunyai topografi berbukit/bergunung akan membutuhkan lebih banyak GCP dan untuk lebih akurat perlu dimasukkan juga data ketinggiannya.

 

 

Ingin Melakukan Sesuatu

Catatanku kali ini tentang lamunanku di bilik termenung setelah menuliskan catatanku tentang cara mengisi geodatabase. Lamunanku tersebut adalah tentang keinginan untuk melakukan sesuatu.

Setiap orang pasti punya keinginan akan sesuatu hal. Dari hal yang paling kecil seperti: rajin olahraga, rajin belajar, membeli mainan, mempunyai hape, bangun pagi, dan sebagainya. Atau sesuatu yang lebih besar, seperti: membuat rumah, mendirikan partai, membuka toko, menulis buku, mendirikan yayasan, dan sebagainya. Ada kata-kata seseorang lewat buku maupun lewat artikel atau entah lewat apapun, yang berkaitan tentang melakukan sesuatu yang kita inginkan. Saya membenarkan kata-kata anjuran tersebut dalam renungan di bilik itu.

Saya lupa dari mana dan oleh siapa, yaitu tentang tips untuk menulis buku. Dalam ingatan saya, salah satu tips untuk dapat menulis buku adalah mulailah dengan draft tulisan pertama. Apapun itu, tulis saja. Banyak pengalaman yang menceritakan bahwa draft pertama adalah tulisan yang tidak akan dipakai namun sebuat tulisan yang dipakai tidak akan ada tanpa draft yang pertama. Tulislah sekarang dan perbaiki nantinya. Saran ini kulakukan saat saya ingin menulis buku tutorial ArcGIS. Saat itu masih ArcGIS 9. Meskipun tulisan tersebut saat ini berhenti, namun saya membenarkan petuah di atas. Saat saya memulai menulis, saya bingung akan menulis apa. Namun saya mulai tulis apapun tanpa memperhatikan susunan kata dan kalimat. Start awal itu mengakibatkan saya melanjutkannya terus dan seperti ada dorongan untuk menambah serta menyelesaikannya bab demi bab. Namun sayang, saya membaca akan segera dirilis ArcGIS 10 dan tulisan itu berhenti sampai sekarang. Ini adalah kelemahan saya yaitu beralasan bahwa nanti tulisan saya tidak akan terpakai karena sudah ada versi yang terbaru.

Namun, keinginanku untuk menulis tidak berhenti.

Belum lama ini, saya baru saja menyelesaikan membaca buku berjudul “10 Jurus Terlarang” oleh Ippho Santosa. Masih tentang keinginan untuk melakukan sesuatu. Ada pelajaran yang diberikan dalam buku tersebut, yaitu: “kita tidak perlu terlalu lama berpikir dan menimbang-nimbang untuk memulai membuka usaha, lakukan sekarang dan sesuaikan nantinya”. Mulailah bisnis Anda sekarang, jangan terlalu lama memikirkan untung rugi dan faktor yang mempengaruhinya. Jika nantinya hasilnya tidak memuaskan, amati dan perbaiki hingga terus menghasilkan yang lebih baik. Berkaitan dengan saya, masih tentang keinginan menulis buku. Saya memutuskan untuk belajar menulis terlebih dahulu dengan membuat catatan seperti sekarang ini. Sebelumnya, saya memulai dengan persiapan cara membuat web, kemudian belajar html, lalu beralih mempelajari joomla. Saya mencoba membuat web dan tulisan dengan joomla dan sudah sempat terisi dengan lumayan tulisan tentang saya, umum, dan GIS. Namun belum juga saya launching, karena bermasalah dengan setting dan tampilan. Saya terlalu menahan diri untuk mempersiapkan yang terbaik dan akhirnya web joomla tersebut tidak berjalan semestinya. Banting setir, saya memutuskan menggunakan wordpress ini dan saya mulai dengan setting yang sederhana. Keputusan dan keinginan saya adalah menulis dahulu, sedangakan setting dan tampilan maupun jumlah pengunjung adalah nanti prioritas selanjutnya. Akhirnya saya mempunyai Wadah ini.

Mengakhiri catatan ini, masih ada satu butir renungan tentang melakukan sesuatu. Bob Proctor, salah satu pengisi di buku The Secret – nya Rhonda Byrne, memberikan nasehat dalam seminar singkatnya (saya lupa dapat dari mana?) tentang keputusan (decision). Putuskanlah sesuatu sekarang dengan data yang sudah ada, dan rubahlah nanti untuk mendapatkan yang lebih baik.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.